Pasien Covid Demak Pilih Isolasi di Rumah, Gubernur Khawatir Muncul Klaster Keluarga

Gubernur Ganjar Pranowo melihat relawan Satgas Jogo Tonggo serta tempat isolasi yang diperuntukkan bagi pasien tanpa gejala Covid-19 di Kelurahan Mangunjiwan, Kabupaten Demak, Jumat (18/6)
Gubernur Ganjar Pranowo melihat relawan Satgas Jogo Tonggo serta tempat isolasi yang diperuntukkan bagi pasien tanpa gejala Covid-19 di Kelurahan Mangunjiwan, Kabupaten Demak, Jumat (18/6)

DEMAK (Awal.id) – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, melakukan sidak penanganan Covid-19 di Kabupaten Demak yang termasuk daerah zona merah, Jumat (18/6).

Ganjar mendatangi tempat isolasi terpusat di Desa Mangunjiwan dan Desa Jetaksari. Di desa ini dikabarkan ada 50 warga terpapar Covid-19, namun Ganjar tidak menjumpai satu pun pasien yang ditempatkan di ruang isolasi terpusat itu.

Hal serupa juga dilihat Ganjar saat mengunjungi tempat isolasi terpusat Desa Jetaksari. Di desa dengan 34 kasus positif Covid-19 itu, tak ada satu pun yang diisolasi di tempat isolasi terpusat.

Ganjar sempat menanyakan kondisi tersebut. Bupati Demak, Esti’anah yang mendampingi sidak Ganjar menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan tempat isolasi terpusat dengan kapasitas 104 kamar. Beberapa waktu lalu sempat terisi empat pasien, tapi saat ini sudah kosong.

“Isolasi terpusat kami masih kosong pak, ada 104 kamar. Kemarin sempat merawat, tapi karena sudah sembuh maka dipulangkan,” kata Esti’anah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Demak, Gufrin menambahkan, Pemkab Demak memiliki dua tempat isolasi terpusat yakni Wisma Hasanah dan Gedung BKPP dengan kapasitas 104 kamar. Tapi, sampai saat ini tempat isolasi terpusat itu masih kosong.

“Selain itu, kami juga memiliki posko-posko Covid-19 di desa sebanyak 356 dengan total kapasitas 1400 lebih. Jadi, masih ada ruangan cukup banyak,” ucapnya.

Melihat kondisi itu, Ganjar pun meminta Pemkab Demak melakukan pemantauan ketat. Sebab jika tidak, klaster keluarga akan semakin banyak muncul di Demak.

“Kalau rumahnya tidak terlalu bagus, saya sarankan lebih baik diedukasi dan dibawa ke isolasi terpusat. Tapi kalau rumahnya cukup bagus dan ada ruangan khusus, bisa diambilkan satu kamar dan dipastikan dia tidak bergerak kemana-mana,” katanya.

Bidan desa serta Satgas Covid-19, lanjut Ganjar, harus turun memastikan protokol kesehatan dijalankan secara ketat. Sebab kalau tidak, isolasi mandiri di rumah memiliki risiko cukup besar.

“Risikonya kalau kemudian tidak mau diisolasi terpusat, seluruh anggota keluarga berpotensi tertular. Itu risikonya, jadi kenapa saya selalu mendorong agar semua yang positif diisolasi terpusat untuk menghindari yang lain tertular. Kecuali kalau satu rumah positif semuanya, maka lebih mudah. Dikunci saja di rumah, tidak boleh pergi-pergi selama menjalani isolasi,” pungkasnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *