Hujan di Musim Kemarau, Peneliti Klimatologi: Pengaruh Dinamika Laut-Atmosfer di Samudera Hindia

SEMARANG (Awal.id) – Pada kondisi normal, Indonesia sudah memasuki musim kemarau pada Juni. Akan tetapi, fakta di lapangan, sejauh ini di sejumlah daerah, hujan dengan intensitas tinggi masih turun di sejumlah daerah. Bahkan di sejumlah daerah terpantau mengalami banjir.

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Supari mengatakan, ada dua hal yang mendasari terjadinya hujan di Pulau Jawa serta di banyak wilayah Indonesia barat maupun tengah pada bulan Juni ini.

“Data aliran udara lembab menunjukkan bahwa sumber uap air yang menjadi sumber kejadian hujan ini dari Samudera Hindia, dan diduga terkait dengan gejala IOD negatif yang saat ini berkembang di Indian Ocean,” kata Supari.

Selain itu, menurutnya, terjadi karena adanya gangguan gelombang atmosfer yang terjadi bersamaan.

“Secara bersamaan, sedang terjadi gangguan gelombang atmosfer yaitu equatorial rossby wave yang juga berkontribusi meningkatkan potensi hujan di wilayah Indonesia,” kata dia.

Sementara itu, Peneliti Klimatologi dari PSTA Lapan Erma Yulihasti mengatakan, hujan yang masih sering terjadi di wilayah barat Indonesia (Jawa dan Sumatera) sejak awal Juni terjadi akibat pengaruh dinamika laut-atmosfer di Samudera Hindia.

Menurutnya, dinamika ini terlihat dari pembentukan pusat tekanan rendah berupa pusaran angin (vortex) yang ada di selatan ekuator sekitar pesisir barat Sumatera dan Jawa.

Adapun pembentukan vortex ini sangat intensif di Samudera Hindia pada awal juni dan diprediksi bertahan sepanjang periode musim kemarau.

Akibatnya pada Juli-Oktober, maka berpotensi timbul anomali musim kemarau yang cenderung basah. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *