Manfaatkan Gas Rawa, Desa Pegundungan Banjarnegara Mandiri Energi. Gubernur: Jos Gandos

Gubernur Ganjar Pranowo menyalakan kompor gas yang memanfaatkn Biogenic Shallow Gas (gas rawa) di Desa Pegundungan, Kabupaten Banjarnegara, Rabu (18/8). Sebanyak 25 rumah warga telah menggunakan gas rawa tersebut
Gubernur Ganjar Pranowo menyalakan kompor gas yang memanfaatkn Biogenic Shallow Gas (gas rawa) di Desa Pegundungan, Kabupaten Banjarnegara, Rabu (18/8). Sebanyak 25 rumah warga telah menggunakan gas rawa tersebut

BANJARNEGARA (Awal.id) –  Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, menjadi spirit desa mandiri energi berkat pemanfaatan gas rawa atau Biogenic Shallow Gas (BSG). Gubernur Ganjar Pranowo pun berharap akan lebih banyak lagi tempat-tempat di Jawa Tengah yang memanfaatkan energi serupa yang ada di daerah masing-masing.

“Saya senang spirit desa mandiri energi bisa diwujudkan. Di tanah kita yang kita injak ternyata ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan yaitu gas,” kata Ganjar usai meninjau dan meresmikan separator Biogenic Shallow Gas di Desa Pegundungan, Pejawaran, Banjarnegara, Rabu (18/8).

BSG di Desa Pegundungan saat ini sudah dialirkan dan digunakan oleh 25 rumah. Setidaknya masih ada sekitar 138 rumah yang belum terpasang instalasi BSG. Ganjar mengatakan, setelah peresmian itu nanti dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah akan membantu pemasangan instalasi di 100 rumah.

Baca Juga:  Klaten Punya Mal Pelayanan Publik, Ke-19 di Jawa Tengah

“Mudah-mudahan nanti yang lainnya tinggal kita bereskan, ada sekitar 138 KK lagi yang akan menggunakan, maka semua tercover. Nanti Dinas ESDM akan bantu 100, sisanya nanti dari desa. Lumayan (dengan BSG) tidak akan ada lagi uang yang dikeluarkan untuk beli elpiji karena di sini sudah disediakan,” katanya.

Ganjar juga meminta peta geologis daerah mana lagi yang ada sumber gas rawa. Di titik-titik yang terpetakan tersebut nanti akan dibuat sumur-sumur untuk cadangan BSG. 

Baca Juga:  Begini Cara Bidan Ami Ajak Lansia Banyumas Sadar dan Mau Divaksin

“Kalaulah usianya 25 tahunan maka kita siapkan untuk tahun ke-26. Jadi di mana lagi sumbernya, kalau dapat 25 tahun lagi artinya kita bisa 50 tahun betul-betul mandiri,” ungkapnya.

Selain di Pegundungan, praktik pemanfaatan gas rawa juga sudah dilakukan di Grobogan dan Sragen. Untuk itu Ganjar berharap semakin banyak lagi tempat yang mengadopsi model serupa.

“Dinas ESDM sudah saya minta untuk mencari se-Jawa Tengah itu ada di mana saja. Model seperti ini juga sudah kita gunakan di Grobogan dan Sragen. Kita ini sebenarnya kaya, kalau level desa saja bisa mandiri energi. Jos gandos,” katanya.

Baca Juga:  Jalin Silaturahmi, Alfamart dan Jurnalis FC Gelar Laga Fun Football

Adapun sebelum dibuatkan separator oleh Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, masyarakat di Desa Pegundungan sudah memanfaatkan gas rawa tersebut secara manual. Sementara untuk pembuatan sumur membutuhkan kedalaman sampai 8 meter.

Kepala Desa Pegundungan, Murti, mengatakan, pengelola separator BSG tersebut akan diserahkan kepada BUMDes. Masyarakat akan diminta iuran yang jauh lebih hemat sekitar 50 persen daripada membeli gas elpiji.

“Nanti akan dikelola BUMDes, ini baru ada 25 rumah, masih ada 138 rumah yang nanti akan dipasang instalasi. Kami berharap ini bisa menjadi Desa Mandiri Energi,” katanya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *