Perjuangan Diah Ayu Melawan Trauma Cedera Berbuah Podium Juara

SEMARANG (Awall.id) – Air mata Diah Ayu Permatasari tak terbendung. Begitu berhasil menuntaskan angkatan kedua clean and jerk seberat 96 kilogram, lifter andalan Kota Semarang itu tak kuasa membendung haru. Ada beban yang berhasil diangkat, bukan sekadar barbel di atas kepala, tetapi juga trauma dan keraguan setelah enam bulan bergelut dengan cedera lutut.

Tangis itu menjadi luapan emosi setelah perjalanan panjang yang nyaris membuatnya menyerah. Namun, Diah Ayu membuktikan bahwa cedera bukan akhir dari perjuangan.

Di Gedung Graha Sari, Gayamsari, Semarang, Minggu (25/10/2026), atlet kelahiran 3 Juni 2005 itu justru berdiri di podium tertinggi cabang olahraga angkat besi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026.

Turun di kelas 77 kilogram putri, Diah Ayu tampil meyakinkan. Ia menuntaskan tiga percobaan snatch dengan angkatan terbaik 80 kilogram. Pada sesi clean and jerk, ia sukses mengangkat beban 96 kilogram untuk mengunci medali emas dengan total angkatan 176 kilogram.

Keunggulannya atas para pesaing cukup telak. Kompetitor terdekatnya, Diazema Kayla Indira dari Grobogan, mencatatkan total angkatan 165 kilogram setelah mengangkat beban maksimal 90 kilogram pada clean and jerk.

Diah Ayu bahkan tak perlu melanjutkan ke angkatan ketiga. Medali emas sudah berada dalam genggamannya.

Baca Juga:  Hormati Tokoh Nasional, FIB Gelar Seminar Pengusulan Calon Pahlawan Nasional R.M. Margono Djojohadikoesoemo

Namun, di balik kemenangan meyakinkan itu, tersimpan perjuangan yang tidak mudah. Ada masa ketika jongkok saja menjadi sesuatu yang mustahil baginya.

“Luar biasa, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Sebelumnya saya harus istirahat enam bulan karena dislokasi lutut. Hampir menyerah, dan sekarang bisa kembali untuk medali emas ini,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Enam Bulan yang Menguji Mental

Cedera dislokasi lutut membuat kehidupan Diah Ayu berubah. Selama enam bulan, ia harus menepi dari latihan normal. Gerakan sederhana yang menjadi bagian penting dari teknik angkat besi, seperti jongkok, tak bisa dilakukannya.

Kondisi itu bukan hanya menguji kekuatan fisiknya, tetapi juga mentalnya sebagai atlet. Keinginan untuk kembali bertanding harus berhadapan dengan rasa sakit, ketakutan, dan keraguan terhadap kemampuan tubuhnya sendiri.

“Saya benar-benar menyerah, tapi suami selalu menguatkan. ‘Ayo, ini kesempatan. Kalau kamu bisa angkat 80 atau 100, kamu pasti juara’,” tuturnya mengenang dukungan sang suami.

Suami Diah Ayu, Sri Yanto, juga merupakan atlet angkat berat Kota Semarang. Kehadiran Sri Yanto menjadi salah satu sumber kekuatan bagi Ayu ketika semangatnya mulai goyah.

Di saat dirinya merasa tak lagi sanggup melanjutkan perjuangan, sang suami terus meyakinkannya bahwa kesempatan untuk kembali masih terbuka. Dukungan itu perlahan membangkitkan keberanian Diah Ayu untuk kembali menghadapi barbel.

Baca Juga:  MoU USM-BNN Jateng, Rektor USM: Kolabor-Aksi Bukan Cuma Kolaborasi

Berlatih dengan Kaki yang Tak Bisa Ditekuk

Selama masa pemulihan, Diah Ayu tak sepenuhnya meninggalkan latihan. Meski lututnya belum memungkinkan untuk melakukan gerakan normal, ia mencari cara agar tetap bisa berlatih sesuai kemampuannya.

Jika kaki belum bisa diajak bekerja, ia memilih melatih bagian tubuh yang tidak mengalami cedera.

“Benar-benar berat karena selama enam bulan tidak bisa jongkok. Jadi, benar-benar hanya duduk, kaki lurus. Tapi saya pantang menyerah. Kaki sakit, tapi tangan tidak sakit, dan saya berlatih tangan,” katanya.

Keputusan itu menjadi bentuk perlawanan terhadap keadaan. Diah Ayu tak ingin cedera membuat seluruh kemampuannya hilang begitu saja. Sedikit demi sedikit, ia menjaga kekuatan tubuh bagian atas sembari menunggu lututnya pulih.

Ia juga terus membangun keyakinan dalam dirinya sendiri. “Ini cuma cedera, apa pun ini cuma cedera. Saya meyakinkan diri seperti itu,” ujarnya.

Kalimat sederhana tersebut menjadi pegangan ketika rasa takut kembali muncul. Baginya, cedera memang membuat langkahnya terhenti sementara, tetapi bukan berarti impiannya harus berakhir.

Bangkit Tiga Bulan Sebelum Porprov

Baca Juga:  PON XXI, Tim Sepak Bola Jateng Kembali Raih Hasil Imbang Lawan Papua

Titik balik perjuangan Diah Ayu datang tiga bulan sebelum Porprov Jateng 2026. Ia memberanikan diri kembali melakukan gerakan jongkok setelah sebelumnya tak mampu melakukannya selama berbulan-bulan.

Hasilnya menggembirakan. Perlahan, tubuhnya mulai mampu mengikuti gerakan yang selama ini menjadi bagian penting dalam latihan angkat besi.

Meski demikian, perjuangannya belum selesai. Ia tetap menjalani terapi secara intensif dan menggunakan taping untuk membantu menopang lututnya selama proses pemulihan dan persiapan menuju pertandingan.

Waktu yang tersisa dimanfaatkannya untuk mengembalikan kemampuan sekaligus membangun keberanian. Sebab, kembali mengangkat beban bukan hanya soal seberapa kuat ototnya, melainkan juga bagaimana ia mengatasi trauma setelah cedera.

Hingga akhirnya, hari pertandingan tiba.

Di hadapan barbel dan para pesaingnya, Diah Ayu melangkah dengan tenang. Ia mengeksekusi angkatan demi angkatan hingga berhasil mencatatkan total 176 kilogram dan memastikan medali emas untuk Kota Semarang.

Diah Ayu akhirnya membuktikan bahwa dirinya mampu kembali berdiri sebagai juara. Bukan karena ia tak pernah merasa takut atau ingin menyerah, melainkan karena ia memilih untuk terus berjuang meski kedua perasaan itu pernah menghampirinya.

“Ini demi Kota Semarang tercinta,” tutupnya. (*)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *