Mahasiswa Ilmu Komunikasi USM Kampanyekan Bahaya Kekerasan Verbal dan Psikis

SEMARANG (Awall.id) – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM) mengampanyekan bahaya Kekerasan Verbal dan Psikis di SMP Negeri 39 Semarang, pada 18 Mei 2026.
Kegiatan yang diikuti 50 siswa-siswi kelas 8 SMP Negeri 39 Semarang itu menghadirkan narasumber Dosen Psikologi USM Kimmy Katkar SPsi MPsi dan mahasiswa Ilmu Komunikasi USM, Rifqi Aswin Khoirul M.
Ketua Panitia, Salsabila Wardiana mengatakan, tujuan kegiatan untuk meningkatkan kesadaran remaja mengenai bentuk serta bahaya kekerasan verbal dan psikis di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari.
Selain itu juga menjadi sarana bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi USM untuk mengedukasi siswa mengenai bentuk dan bahaya kekerasan verbal dan psikis yang kerap terjadi di lingkungan remaja.
”Kampanye ini merupakan aplikasi dari mata kuliah Komunikasi Jender dan Minoritas yang diampu dosen pengampu Dr Yulianto Budi Setiawan SSos MSi. Edukasi mengenai kekerasan verbal dan psikis penting diberikan sejak dini karena banyak tindakan yang dianggap bercanda justru dapat meninggalkan dampak emosional bagi korban,” katanya.
Sementara itu, Dr. Yulianto mengatakan, tujuan kegiatan mendorong mahasiswa agar tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui kampanye sosial yang edukatif.
”Kami berharap, melalui kegiatan ini, mahasiswa mampu mengimplementasikan mata kuliah secara langsung kepada masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran remaja mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dan bebas dari kekerasan verbal,” ujarnya.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Sri Suwandono SPd mendukung kampanye tersebut karena maraknya kekerasan verbal dan psikis yang terjadi di lingkungan remaja saat ini.
”Era sekarang banyak sekali terjadi bulliying. Terima kasih kepada mahasiwa USM sudah berkenan memberikan sosialiasi. Semoga anak-anak mendapatkan tambahan wawasan dan pengetahuan mengenai kekerasan verbal dan psikis,” ujarnya.
Dalam paparannya, Aswin mengatakan, kekerasan verbal dan psikis terjadi karena kurangnya empati, anominitas digital, lingkungan peniruan, dan ingin terlihat berkuasa.
”Aspek empati menjadi penting karena banyak pelaku tidak menyadari bahwa ucapan yang dianggap candaan ternyata dapat meninggalkan luka psikologis bagi korban,” jelas Aswin.
Adapun Kimmy Katkar mengingatkan pentingnya menyimpan bukti apabila mengalami kekerasan, terutama yang terjadi di media digital, sebagai langkah perlindungan diri dan upaya mencari bantuan kepada pihak yang dipercaya.
”Korban kekerasan tidak boleh merasa sendiri. Dukungan sosial dan keberanian untuk berbicara menjadi langkah penting agar dampak psikologis tidak semakin memburuk,” ungkap Kimmy.




















