Komunitas Salunding Gelar Festival Kaladesa 2022, Catat tanggalnya  

SEMARANG (Awal.id) – Komunitas Salunding  yang difasilitasi melalui program Hibah Pentas Seni, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah akan menggelar prosesi kebudayaan, diskusi budaya, dan pertunjukan seni di Situs Watu Tugu, Kecamatan Tugu dan Omah Alas Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, Jumat (30/12) mendatang.

Beranjak dari manuskrip kuno yang menyinggung kondisi tentang alam Semarang dan keberadaan gunung dan lautan di sekitarnya, muncul gagasan untuk merayakannya sebagai sebuah peristiwa budaya.

Ketiga manuskrip kuno yang menyebut kondisi lansekap tersebut meliputi Lelampahan Purwalelana, Bujangga Manik, dan Babad Tasring Alam.

“Situs Watu Tugu yang terletak di sebuah bukit di Kecamatan Tugu, Kota Semarang merupakan bukti kekuatan yang menjadi penanda peradaban Semarang di masa lampau. Benda ini tergolong stupa yang memiliki kemiripan dengan bentuk serupa di halaman Gedung Agung Yogyakarta,” ujar Tri Subekso penggagas Festival Kaladesa 2022.

Baca Juga:  Rekomendasi Angkringan Live Music Malam Minggu di Semarang

Menurut Tri Subekso, diperkirakan benda bersejarah ini berasal dari abad ke-8 hingga 10 Masehi di saat Kerajaan Mataram Kuno berkembang dan mengalami puncak kejayaannya.

“Posisinya terletak di atas bukit yang merupakan bekas garis pantai Semarang purba sebelum terjadinya sedimentasi parah yang membuat garis pantai Semarang menjorok sejauh 5 -6 km ke arah utara,” ujar Tri Subekso.

Dia menjelaskan kaitan antara Laut Jawa dan Gunung Ungaran ini dapat diterjemahkan ke dalam filosofi nyegara gunung. Nyegara Gunung adalah filosofi yang memandang antara laut (segara) dan gunung sebagai satu kesatuan tak terpisahkan.

Tri Subekso sedang mengecek kesiapan lokasi Festival Kaladesa

Tri Subekso sedang mengecek kesiapan lokasi Festival Kaladesa

Oleh karena itu, lanjut dia, setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut atau sebaliknya. Apa yang terjadi di hulu, akan berdampak ke hilir, demikian pula kebalikannya.

Baca Juga:  Kejati Jateng Tahan Tersangka Korupsi Rp 2,2 Miliar di BKK Jateng Cabang Brebes 

“Di antara Laut Jawa dan Gunung Ungaran itu terdapat dataran yang menjadi areal permukiman manusia, yakni Kota Semarang,” paparnya.

Terinspirasi dari filosofi tersebut, sambungnya,  Festival Kaladesa 2022 akan menggandeng berbagai komunitas seni pertunjukan, antara lain Sanggar Nyi Pandansari, Sangkar Seni Jodipati, UKM Kesenian Jawa Undip, Komunitas Karangjati Nyawiji, Smara Kinanthi, Tridhatu, dan Trah Segara.  Nantinya dalam festival itu juga akan ditampilkan seni gejog lesung dan karawitan dari masyarakat Kelurahan Kandri.

Baca Juga:  2023, Raffi Ahmad: Rans Entertainment akan Beri Kejutan untuk Warga Semarang

“Masing-masing akan membawa karyanya sesuai dengan tagline Festival Kaladesa, yakni Memaknai Masa, Merayakan Bentang Alam. Selain pertunjukan seni, kegiatan akan diisi dengan Diskusi Budaya dan Orasi Kebudayaan,” kata Tri Subekso.

Sementara Ketua Komunitas Salunding Anggoro Prasetianto mengatakan kearifan lokal (local wisdom) yang tertanam sebagai nilai-nilai sosial budaya, baik tertulis maupun tidak tertulis, sejatinya merupakan bagian proses pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).

“Untuk itu, setiap proses pembangunan di desa harus bertumpu pada akar budaya masyarakat setempat,” imbuhnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *