Rektor Unika Soegijapranata: Media dan Kampus Sama-sama Pejuang Kebenaran

SEMARANG (Awal.id) – Media dan kampus sebenarnya memiliki tugas yang sama, yaitu sebagai pejuang kebenaran. Namun seirama perkembangan teknologi informasi, misi pengemban kebenaran menghadapi tantangan yang sangat berat.

Demikian diungkapkan Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Dr Ferdinandus Hindiarto SPSi MSi dalam ‘Talkshow 4 Rektor Bicara Media’ yang digelar PWI Jawa Tengah secara virtual, Rabu (16/2).  Kegiatan ini digelar untuk merayakan Hari Pers Nasional tahun 2022 tingkat Jateng

Pada acara yang dipandu oleh Ketua Departemen Komunikasi Fiskom Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Budhi Widi Astuti SIKom MA, juga menghadirkan Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang Prof Dr Gunarto SH MHum, Rektor Universitas Semarang (USM) Dr Supari MT, dan Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang Prof Dr Ir Edi Noersasongko Mkom.

Baca Juga:  Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi, 22 Eks Napiter Ikut Upacara HUT Kemerdekaan RI ke 77

”Sengaja saya mengutip judul sebuah tulisan mantan rektor Unika Soegijpranata Prof Budi Widianarko, yaitu kedangkalan dalam keberlimpahan. Kita menerima berlimpah informasi, tapi dangkal,” kata Ferdinand.

Menurut Ferdinand, teknologi sistem informasi  digital seperti pisau yang memiliki dua mata yang sama-sama tajam. Pada satu sisi sangat membantu, namun secara kepribadian dan kognitif, sebagai bagian dari bangsa, masyarakat dan pribadi yang belum matang.

“Pisau kedua yang justru melukai nilai-nilai kemanusiaan,” paparnya.

Suarakan Kebenaran

Pada zaman ini, lanjuut dia, media belum seutuhnya sebagai pejuang kebenaran. Dia bercerita ketika menerjunkan tim psikologi ke warga Desa Wadas yang mengalami traumatik pada proyek Bendungan Bener Purworejo.

”Ketika saya baca lima media, ternyata beda semua. Mau percaya yang mana? Bingung saya. Di sinilah saya menginginkan, mari kita bangun sinergi antara kampus dan perguruan tinggi untuk memperjuangkan kebenaran karena irisannya sangat besar,” tambahnya.

Baca Juga:  26 OPD dan 7 RSUD Milik Pemprov Jateng yang Raih Predikat Informatif

Dia lalu mempertanyakan adakah saat ini media arus utama atau konvensional benar-benar punya kesungguhan dalam menyuarakan kebenaran, dan menyuarakan harapan dan optimisme? Yang terjadi saat sekarang  media justru menyebarkan diksi-diksi dan narasi ketakutan. Media seperti tanpa kontrol, dan editor.

Sikap yang bisa dilakukan media di tengah zaman, kata Ferdinand, media harus punya pegangan. Akan berpegang kemana? Apakah memakai pola lama ‘bad news is good news’? Jika menyampaikan kebenaran, apakah bisa hidup?

“Saya ingin pers dan kampus kembali ke khittahnya sebagai penyampai kebenaran. Dosen dan mahasiaswa berkumpul dengan suka cita mencari kebenaran. Belajar dan kuliah adalah cara menemukan kebenaran secara suka cita, tanpa ada  titipan, keterpaksaan, dan pesanan,” ujarnya.

Baca Juga:  3 Anggota Kena Covid, Komisi VIII DPR RI Lockdown

Ferdinand menilai tugas pers dan kampus sama, yaitu mencari lalu mengomunikasikan kepada masyarakat tentang kebenaran dengan suka cita. Bukan penyampai informasi yang  bikin waswas.

“Mungkin kalau ngga ada grup WA atau hidup puluhan tahun lalu, kita tak cemas seperti sekarang,” kata mantan general manajer PSIS Semarang itu.

Dia berharap pers bisa memberikan narasi-narasi yang bermanfaat dan hidup dalam optimisme, sehingga bisa menjalani aktivitas secara produktif. ”Pilihan kan ada dua, apakah sebagai penyampai kebenaran atau tidak. Pegangan adalah kata kunci,” kata doktor lulusan UGM yang mengambil konsentrasi psikologi organisasi itu. (*)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *