Laju Muda Tak Pernah Ragu, Insto Dry Eyes Menjaga Pandang Selalu Padu

FOTO ISTIMEWA : Imelda menunjukkan INSTO Dry Eyes, membantu menjaga kelembapan dan kenyamanan mata bagi generasi muda dengan mobilitas tinggi dan aktivitas luar ruang, mulai dari bekerja, berolahraga, hingga beraktivitas di bawah paparan debu dan sinar matahari.

SEMARANG – Imelda tahu betul rasanya menjadi perantau. Anak kos berusia 24 tahun itu menjalani hidup dengan berbagai aktivitas seperti kuliah, bekerja sebagai barista, lalu menutup hari dengan nongkrong bersama teman-temannya di Kota Besar Semarang.

Hidupnya ceria, aktif, dan penuh mimpi. Hampir seluruh waktunya dihabiskan di luar ruangan, menghadapi debu jalanan, asap kendaraan, pendingin ruangan, serta layar laptop dan ponsel yang seakan tak pernah lepas dari genggaman.

“Kalau dihitung, hampir seharian saya di luar. Pagi kuliah, siang sampai malam kerja, malamnya masih pegang laptop atau ponsel,” ujar Imelda saat ditemui di sela aktivitasnya, Minggu (11/1).

Ceria dan aktif, dua kata itu rasanya terlalu sederhana untuk menggambarkan Imelda. Ia adalah potret generasi muda yang multitasking, dinamis, dan sadar gaya hidup.

Fashion baginya bukan hanya soal pakaian, tetapi juga cara merawat diri termasuk menjaga kesehatan tubuh hingga ke hal yang sering luput diperhatikan yaitu mata.

Di usia yang tergolong muda, Imelda bersyukur belum memerlukan kacamata, berbeda dengan banyak teman sebayanya. Namun ia tak pernah menganggap remeh kesehatan mata.

“Banyak teman saya yang sudah pakai kacamata karena sering kerja di depan layar. Dari situ saya sadar, mata itu aset penting,” tuturnya.

Baca Juga:  Tiket.com Gelar Vaksinasi Wisata di Gunungkidul dan Kulon Progo

Kesadaran itu bukan datang tiba-tiba. Sejak SMA, ibunya telah menanamkan kebiasaan menjaga kesehatan.

Sebuah kotak kecil berisi perlengkapan kesehatan selalu disiapkan dan kini ikut menemaninya di kamar kos. Di antara isinya, ada satu yang tak pernah absen yaitu obat tetes mata Insto.

Di depan cermin wastafel, Imelda meluangkan sejenak waktu untuk meneteskan INSTO Dry Eyes. Rutinitas sederhana ini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda yang aktif, menjaga mata tetap nyaman sebelum kembali beraktivitas di luar ruangan maupun menghadapi layar sepanjang hari.

“Ibu saya dari dulu selalu bilang, jangan nunggu sakit. Jadi di kamar kos saya selalu ada obat-obatan dasar, termasuk Insto,” kata Imelda sambil tersenyum.

Insto bukan hadir karena sakit, melainkan sebagai bagian dari rutinitas. Saat mata terasa kering, sepet, atau memerah setelah seharian beraktivitas, Insto Dry Eyes menjadi solusi cepat yang ia andalkan.

“Biasanya mata terasa kering atau perih setelah lama kerja dan lihat layar. Kalau sudah begitu, saya langsung pakai Insto supaya nggak berlarut-larut,” ungkapnya.

Baca Juga:  USM Siap Tuanrumahi Dialog 5 Rektor untuk Peringati HPN 2024

Bagi Imelda, hidup di kota besar berarti siap berdamai dengan berbagai risiko lingkungan.

Debu, asap, AC, serta paparan radiasi gawai menjadi bagian dari keseharian. Ia sadar, mata kering bukan sekadar keluhan sepele.

“Kalau mata sudah nggak nyaman, kerja jadi nggak fokus, kuliah juga terganggu. Makanya saya selalu sedia,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dikutip dari laman JEC Dry Eye Service, prevalensi mata kering di Indonesia mencapai 27,5% hingga 30,6% populasi.

Angka ini meningkat seiring tingginya paparan layar rata-rata hampir 8 jam per hari serta faktor lingkungan seperti penggunaan AC. Jenis mata kering evaporatif menjadi yang paling umum, mencapai 67,5% kasus.

Tak hanya menyerang lansia, mata kering kini banyak dialami usia produktif, termasuk mahasiswa.

Studi bahkan menunjukkan prevalensi mata kering pada mahasiswa yang menjalani kuliah daring mencapai 70,3%.

Gejalanya meliputi mata perih, gatal, lelah, hingga penglihatan kabur yang berdampak langsung pada kualitas hidup.

Imelda menjadi gambaran nyata kelompok usia tersebut. Namun ia memilih bersikap lebih waspada.

“Buat saya, menjaga mata itu sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh lainnya. Karena mata dipakai untuk mengejar mimpi,” katanya.

Baca Juga:  Meriahnya Bazar Sembako Murah Dalam Rangka HUT KIW ke 35

Kesadaran seperti inilah yang coba dibangun melalui kampanye “Bebas Mata SePeLe”. Kampanye ini menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal mata kering seperti sepet, perih, dan lelah yang kerap diabaikan.

Dengan mengenali gejala sejak dini, langkah pencegahan dan perawatan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi gangguan serius.

Direktur PT Combiphar, Weitarsa Hendarto, menegaskan bahwa kampanye ini lahir dari komitmen jangka panjang INSTO terhadap kesehatan mata masyarakat Indonesia.

“Sebagai pemimpin pasar kategori tetes mata yang telah dipercaya lebih dari 50 tahun, INSTO berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat. Rendahnya pemahaman tentang mata kering mendorong kami menghadirkan kampanye ‘Bebas Mata SePeLe’ agar gejala awal bisa dikenali dan ditangani sejak dini,” ujarnya, belum lama ini.

Kesadaran sederhana itu menjadi pembeda, bahwa menjaga kesehatan mata bukan soal usia, bukan pula menunggu gangguan datang.

“Kadang kita lupa, mata itu capek, sama seperti kita,” ucap Imelda pelan.

Bukan hanya setetes cairan bening, bagi Imelda Insto Dry Eyes adalah penjaga di balik mimpi-mimpi yang sedang tumbuh.

Penolong sunyi yang memastikan langkahnya tetap terang, pandangannya tetap jernih, dan harapannya terus menyala.

Karena pada akhirnya, mimpi sebesar apa pun membutuhkan mata yang sehat untuk melihat jalan ke sana.

Dan dari kesadaran-kesadaran kecil yang sering dianggap sepele inilah, kualitas hidup yang lebih baik bermula. (Lia Wahyu A)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *