Satgas PPK USM: Ingat! Pacaran Bukan Hak Milik 100%

Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Semarang (PPK USM), Hermiana Vereswati SPsi MPsi, menjadi narasumber dalam Talkshow Kuliah Keadilan dan Kesetaraan Gender (Kudengar) di Studio Radio USM Jaya, Gedung N Kampus USM, pada Rabu (17/9/2025)

SEMARANG (Awall.id) – “Definisi pacaran itu saling mengenal, tidak lebih dari itu. Pacaran itu proses pengenalan sebelum kita ke jenjang yang lebih serius. Itu pun juga harus dievaluasi, kira-kira bisa lanjut atau tidak. Jangan sampai merasa pacar itu adalah hak milik, sehingga pasangan itu bisa melakukan apa saja. Ingat! pacaran bukan hak milik 100%”.

Hal tersebut disampaikan dengan tegas oleh Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Semarang (PPK USM), Hermiana Vereswati SPsi MPsi, saat menjadi narasumber dalam Talkshow Kuliah Keadilan dan Kesetaraan Gender (Kudengar) di Studio Radio USM Jaya, Gedung N Kampus USM, pada Rabu (17/9/2025).

Talkshow yang dipandu Penyiar Radio USM Jaya, Intan Tiwi itu mengangkat tema “Pentingnya Asertifitas dan Pemahaman Pendidikan Cinta yang Benar dalam Membangun Hubungan dengan Lawan Jenis”.

Dosen Psikologi USM yang juga akrab disapa Vesti itu mengatakan, asertifitas merupakan keberanian seseorang untuk menyuarakan pikiran, perasaan, kebutuhan, dan batasan-batasan yang dapat diterima atau tidak dalam suatu hubungan.

Penting bagi seseorang untuk jujur terhadap diri sendiri. Jika terdapat perasaan yang tidak nyaman dan bahkan merugikan diri sendiri, maka perlu untuk bersuara. Penting pula untuk berani menyuarakan isi pikiran, perasan dan batasan-batasan dalam suatu hubungan kepada pasangan sejak awal.

Baca Juga:  FTIK USM Gelar LKMM-TD dan Makrab bagi Mahasiswa Baru

“Pendidikan cinta itu perlu sekali diperkenalkan ke masyarakat terutama para remaja, supaya tidak toxic. Karena kalau sudah terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti kekerasan seksual, kita harus mendefinisikan ulang, sebenarnya ini cinta atau tidak. Supaya kita tidak terjebak dan terlalu jauh menjadi korban, yang endingnya nanti kita menyesal,” katanya.

Dia menyampaikan bahwa ketika pacaran, mengenal lawan jenis merupakan sesuatu yang normal, wajar, dan dibutuhkan. Begitupun juga dengan tumbuhnya rasa cinta atau suka.

Namun, mengenal diri sendiri terlebih dahulu sebelum memulai pacaran merupakan hal yang paling penting, agar perasaan tersebut tidak berkembang secara liar.

“Kita harus tau, kita pacaran itu tujuannya apa, pacaran yang sehat itu seperti apa. Kita perlu mencari tahu, sebenarnya yang kita butuhkan dalam suatu hubungan itu apa. Agar kita juga tidak dimanfaatkan, disuruh-suruh, lama-lama endingnya kekerasan kalau kita tidak bisa nurutin maunya dia. Ketika pacaran, kita tetap harus menjadi diri kita masing-masing,” tegasnya.

Baca Juga:  HUT Kemerdekaan RI ke 78, ASTON Inn Pandanaran Semarang Gelar Lomba Bersama Media

Keberanian untuk mengungkapkan isi pikiran, hati, perasaan, atas perlakuan yang tidak nyaman kepada pasangan, menjadi kunci agar suatu hubungan dapat menjadi sehat, dan pasangan tidak terlampau bertindak jauh.

“Itu perlu didiskusikan karena jujur saja kita pacaran, kita juga tidak tahu pacar kita aslinya seperti apa. Jadi ketika pacaran jangan sampai kamu pacarku tapi kamu milikku, itu kan keliru, atau kamu pacarku tapi kamu juga akhirnya jadi mangsa ku. Jadi khususnya perempuan-perempuan harus tau agar kita tidak terlalu jauh dan kita akhirnya jadi tidak dirugikan,” ucap Vesti.

Sebelum hubungan dijalani seperti air mengalir, terlebih dahulu harus berani diskusi terkait tujuan pacaran kepada pasangan. Kemudian, harus saling menghargai dan menghormati. Pasangan harus memberikan ruang untuk bertumbuh, menjadi diri sendiri, bersosialisasi, membuka diri, dan tidak boleh posesif.

Baca Juga:  FTIK USM Tampilkan Inovasi Berbasis AI dan IoT di Festival Inovasi dan TIK Kota Semarang 2024

Pasangan harus saling menyupport dalam konteks positif, serta tidak ada touching atau menyentuh.

“Batasan itu harus disampaikan bahwa yang namanya pacaran tidak boleh menyentuh, sekalipun gandengan tangan. Karena nanti bisa saja pasangan kita minta yang lebih, bertindak yang lebih, itu bahaya, apalagi bagi yang masih baru pertama kali pacaran. Itu adalah salah satu cara menghargai badan kita,” ungkap Vesti.

Namun, jika sudah terlanjut, Vesti menyarankan untuk mengambil jeda, agar diri sendiri dapat memikirkan kembali terkait perlakuan yang diterima dari pasangan. Kemudian sampaikan pendapat ke pasangan masing-masing dengan timing atau waktu yang tepat.

“Kamu itu berharga. Justru karena kamu merasa berharga, dan kembali lagi konteksnya baru mengenal dan pacaran, kamu harus punya dan mencari waktu untuk diskusikan itu. Nanti kalau kamu punya keberanian untuk mendikusikannya, kamu lihat respon pasangan kamu. Kita harus punya daya tawar dan negosiasi, karena masa depan kita yang dipertaruhkan,” ujarnya.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *