Lestarikan Sendang Sentono serta Ritual Lokal, Kolektif Hysteria Gelar Festival “Mula Bukaning”
by Redaksi · Published
SEMARANG (Awall.id) – Kelurahan Ngijo, yang terletak di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, telah diresmikan sebagai salah satu desa wisata dalam Program Kampung Tematik oleh mantan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Kampung ini dikenal dengan sebutan Kampung Tematik Jamruk (Jambu-Jeruk) dan awalnya berfokus pada potensi buah-buahan. Namun, seiring berjalannya waktu, Ngijo kini dikenal juga dengan beragam varian tanaman lain yang berkembang di sana.
Tradisi seni dan budaya di Kelurahan Ngijo, meski masih terjaga, mengalami fluktuasi. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan adalah Sadranan, sebuah ritual yang dilakukan untuk mendoakan dan menghormati leluhur kampung, khususnya Kiai Asari, pendiri Kampung Ngijo. Eko Siswanto, Ketua RT 02, menjelaskan bahwa banyak kesenian tradisional di Ngijo seperti Ketoprak telah menghilang akibat berbagai faktor, termasuk kurangnya penerus dan keterbatasan biaya.
“Ketoprak pernah ada, tetapi kini tidak lagi aktif karena anggotanya banyak yang meninggal dunia atau pindah,” ujar Eko. Di samping itu, Kelurahan Ngijo saat ini hanya memiliki dua kelompok kesenian, yaitu Paguyuban Reog dan Kuda Lumping, yang biasanya tampil saat perayaan 17 Agustus di tingkat RT.
Sadranan menjadi satu-satunya tradisi rutin yang masih dijalankan, di mana warga berdoa dan melakukan takziah di makam leluhur pada bulan Rajab. Ritual ini melibatkan penyembelihan kambing dan pengambilan air wudhu dari dua sendang di Ngijo, yaitu Sendang Wedok dan Sendang Lanang.
Menanggapi kondisi ini, Kolektif Hysteria melalui Platform PekaKota mengadakan festival kampung bertajuk “Mula Bukaning” pada Sabtu, 27 Juli 2024, di Kelurahan Ngijo. Festival ini tidak hanya menampilkan pertunjukan seni tradisional dan modern, tetapi juga menggelar forum diskusi tentang pelestarian sendang sebagai sumber daya alam yang penting dan hubungannya dengan tradisi lokal.
Program Manager Platform PekaKota, Nella Ardiantanty Siregar mengungkapkan tujuan dari festival Mula Bukaning serta pentingnya merawat sumber mata air dan tradisi ritual yang ada di Ngijo.
“Festival ini bertujuan untuk melestarikan Sendang Sentono serta ritual lokal yang ada di Ngijo,” jelas, Program Manager Platform PekaKota. Dia menekankan pentingnya kesadaran akan pelestarian sumber mata air dan tradisi ritual, yang merupakan bagian integral dari budaya lokal.
Nella berharap festival seperti ini dapat menghidupkan kembali potensi seni dan budaya di setiap wilayah. “Kita ingin menunjukkan bahwa pelestarian alam dan budaya bisa berjalan seiring,” tambahnya.
Program ini juga termasuk dalam Event Strategis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI melalui Program Dana Indonesiana.



















