Taprof Lemhannas RI AM Putut Prabantoro: Jaga dan Lindungi Lahan Adatmu


(kiri ke kanan): Dandim 0910 / Malinau Letkol Inf Alisun, Taprof Bidang Ideologi Lemhannas RI AM Putut Prabantoro, Bupati Malinau Wempi W Mawa, Pastor Paroki St Lukas Apau Kayan Rm Sixtus Pr, dan Sekda Kabupaten Malinau, Ernes Silvanus.
MALINAU (Awall.id) – “Jangan jual tanah adatmu. Jagalah tanah tumpah darahmu itu. Jika hutan adalah nafas kehidupan bagi diri kalian dan keturunan, jangan jual tanah adatmu. Hiduplah dari hutan yang merupakan ‘supermarket’ bagi kebutuhanmu sehari-hari. Kehidupan terisolirmu dari dunia luar bukan menjadi alasan dirimu harus menggadaikan warisan yang menjadi hak para generasi mendatang.“
Itulah yang disampaikan oleh Pengajar (Taprof) Bidang Ideologi Lemhannas RI, AM Putut Prabantoro kepada lebih dari 500 umat Katolik Paroki Gereja Katolik Apau Kayan, Long Ampung, pada hari Senin (18/12/).
Putut Prabantoro diundang sebagai narasumber dalam wawasan kebangsaan dengan tema “Apau Kayan dan Masa Depan Indonesia” dalam acara perayaan 25 tahun Gereja Paroki St. Lukas, Apau Kayan, yang diselenggarakan di Stasi St. Maria Goreti, Agung Baru, Sungai Boh, Malinau, Kaltara, pada hari Selasa (19/12). Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Malinau, Wempi W Mawa, Sekda Ernes Silvanus, Dandim 0910/Malinau Letkol Inf. Alisun, anggota DPRD Malinau Eva Christine Agustina, Gora Kunjana dari Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), serta artis penyanyi Maria Calista.
Dalam sambutannya, Putut Prabantoro menjelaskan bahwa asal-usul tempat kelahiran, suku, pekerjaan orang tua, dan keyakinan merupakan anugerah dan modal hidup. Dia menekankan bahwa keterbatasan yang dimiliki seharusnya dianggap sebagai modal kehidupan.

Taprof Bidang Ideologi Lemhannas RI AM Putut Prabantoro menerima penghormatan memakai pakaian adat Dayak.
“Untuk menembus wilayah terisolir atau terisolasi seperti di sini, hanya pesawat kecillah yang menjadi tumpuan. Setelah pesawat, perjalanan akan dilanjutkan dengan mobil, motor bahkan berjalan kaki yang tidak dekat. Itu belum dilihat faktor penghambat lain, seperti jembatan rusak, sungai yang meluap dan akses jalan yang berlumpur. Dan, saya dari bandara Mahak yang kecil, untuk menuju ke Sungai Boh ini, ada 4 jembatan yang rusak. Bahkan untuk masuk desa, hanya tersedia, jembatan gantung yang sudah dimakan usia. Sinyal HPpun dapat dikatakan tak ada. Kalau pun ada harus membeli kuota yang tidak murah,” ujar Putut Prabantoro.
Putut juga menyampaikan fakta bahwa di daerah terpencil ini, semua barang dari luar sangat mahal. Bensin dari Malaysia seharga Rp 30.000/liter, listrik bersumber dari Malaysia karena solar untuk menghidupkan diesel juga diimpor dari sana. Listrik hanya tersedia pada pukul 21.00 dan pada siang hari tidak digunakan untuk menghemat energi. Makanan seperti ayam broiler dijual seharga Rp 150 ribu, dan semen seharga Rp 600 ribu per zak. Meskipun ada hutan dan sungai sebagai “supermarket” alam, namun barang-barang tersebut sudah langka karena perubahan pola hidup masyarakat.
Putut memberikan contoh bahwa di Provinsi Banten, suku Badui mampu hidup tanpa listrik, tanpa HP, dan selalu berjalan kaki, meskipun akses transportasi sulit. Masyarakat Badui memiliki ketahanan pangan berdasarkan swadaya.
“Oleh karena kehidupan dan tanah yang subur ini merupakan kehidupan utama bagi masyarakat di sini, hutan dan sungai perlu dijaga, dilestarikan. Tanah tempat tinggal yang merupakan hasil buka hutan, hendaknya tidak dijual. Harus dijaga dan dipelihara. Memang menjadi masalah bagi masyarakat ketika berhadapan dengan masa depan dan pendidikan anak. Lalu apa yang harus dilakukan?“ ujar Putut Prabantoro.
INDONESIA 2045
Pada tahun 2045, Indonesia akan merayakan seratus tahun kemerdekaannya. Generasi yang saat ini bersekolah di SMA dan perguruan tinggi diharapkan menjadi pemimpin nasional di berbagai bidang. Meskipun berasal dari daerah terpencil, diharapkan remaja dari wilayah Apau Kayan juga turut berperan dalam memimpin negara ini. Namun, menjadi pemimpin nasional bukanlah hal yang mudah dan penuh tantangan.
“Ibu Kota Nusantara atau IKN akan diwujudkan dalam waktu tidak lama. Bahkan pemerintah sudah mencanangkan upacara kemerdekaan RI 2024 berpusat di IKN. Jika IKN terwujud, akan ada akses yang diharapkan akan dibuat segera dari Samarinda ke Long Ampung. Juga ke daerah-daerah terisolasi seperti Agung Baru. Akses ini akan memperlancar dan sekaligus mempercepat pembangunan di wilayah Kaltara dan Kaltim sebagai dampak. Akan banyak investor yang akan masuk dengan mempertimbangkan sumber kekayaan alam daerah ini. Pada saat inilah, kebutuhan tanah akan menjadi salah satu pilihan yang harus diputuskan investor. Jika karena kebutuhan sesaat, masyarakat tergiur akan menjual tanah mereka, dampak yang akan dihadapi adalah hilangnya hutan dan sekaligus tanah yang dimiliki. Artinya, lambat laun, kehidupan, adat istiadat dan budaya akan hilang karena pengaruh modernisasi.“ ujar Putut Prabantoro.

Taprof Bid. Ideologi Lemhannas RI, AM Putut Prabantoro berpose di depan bandara yang sangat sederhana di Mahak, Sungai Boh, Malinau, Kaltara.
Oleh karena itu, Putut Prabantoro menyarankan agar hutan dan tanah adat tidak dijual. Sumber-sumber air, termasuk sungai, juga perlu dijaga untuk kehidupan generasi mendatang. Pembangunan modern harus memperhatikan dan menghormati adat dan budaya setempat, sebagai bagian dari kekayaan keberagaman Indonesia. Ideologi Pancasila menjamin kesejahteraan masyarakat dengan landasan Keadilan Sosial, bukan Keadilan Pribadi.
Taprof Lemhannas juga menyoroti tantangan utama bagi masyarakat adat, yaitu perkembangan teknologi komunikasi dan gaya hidup remaja saat ini. Teknologi komunikasi dan informatika yang nirkabel akan berpengaruh besar terhadap kehidupan para pemimpin masa depan. Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan menjadi saingan utama bagi kecerdasan masyarakat adat. Oleh karena itu, remaja harus mempersiapkan diri untuk menjadi cerdas, sesuai dengan semangat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Taprof Bid. Ideologi Lemhannas RI, AM Putut Prabantoro (ketiga dari kiri), Dandim 0910 / Malinau Letkol Inf. Alisun dan isteri (keempat dan kelima dari kiri) berfoto bersama serta anggota BABINSA di depan bandara yang sangat sederhana di Mahak, Sungai Boh, Malinau, Kaltara.
“Masyarakat Adat tidak bisa berjalan sendiri karena tidak mampu. Oleh karena itu, harus ada kerjasama antara Pemerintah, orangtua, anak muda dan institusi pendidikan. Jangan melihat agama, suku, atau latar belakang lainnya untuk mencerdaskan remaja di kabupaten ini. Semua remaja di wilayah ini memiliki hak yang sama. Pemerintah juga saya minta untuk memperhatikan pelajar dan mahasiswa dari Kabupaten Malinau yang saat ini belajar di berbagai kota di Indonesia,“ ujar Putut Prabantoro



















