Polrestabes Semarang Amankan Pengasuh Ponpes Perkosa 6 Santriwati

Unit PPA Satreskrim Polrestabes Semarang mengamankan seorang pria pengasuh ponpes di Semarang karena meakukan pemerkosaan terhadap santriwatinya.
Unit PPA Satreskrim Polrestabes Semarang mengamankan seorang pria pengasuh ponpes di Semarang karena meakukan pemerkosaan terhadap santriwatinya.

SEMARANG (Awall.id) – Unit PPA Satreskrim Polrestabes Semarang mengamankan seorang pria pengasuh ponpes di Semarang karena melakukan pemerkosaan terhadap santriwatinya.

Tersangka yang tega memperkosa 6 santrinya itu bernama Muh Anwar (45) merupakan pengasuh pondok pesantren Hidayatul Hikmah Al Kahfi di Lempongsari Semarang. 

Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Donny Sardo Lumbantoruan menjelaskan berdasarkan keterangan salah satu korban, dia mengenal tersangka sebagai kyai di sebuah pondok pesantren dimana ayah korban merupakan salah satu jamaah yang sering mengikuti kajian di tempat tersangka. 

“Awalnya Ayah korban mengatakan kepada tersangka bahwa korban ingin melanjutkan sekolah SMA di pondok dan saat itu tersangka mengatakan akan membantu menguruskan pendaftaran di salah satu pondok di Malang. Lalu, Juli 2020 korban diantar oleh orang tuanya ke pondok milik tersangka dan menginap disana sebelum diberangkatkan ke Malang,” ujar Donny saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Jumat (8/9/2023).

Lebih lanjut dirinya menuturkan di hari pertama korban menginap di pondok tersebut tersangka melakukan perbuatan cabul terhadap korban dengan cara meremas payudara korban dan korban langsung berteriak namun tersangka melarang korban berteriak. 

“Selang 2 hari korban berangkat ke pondok yang berada di Malang bersama dengan rombongan calon santri yang lain. Kemudian pada bulan April 2021 saat korban liburan sekolah, korban pulang ke Semarang dan diajak pergi oleh tersangka dengan menggunakan sepeda motor jenis Supra namun korban tidak mengetahui akan diajak pergi kemana,” jelasnya.

Lalu, ditengah perjalanan korban dibelikan es buah, lalu korban diajak ke salah satu hotel yang berada di wilayah Banyumanik dan setelah sampai di Hotel korban diajak masuk kedalam kamar, kemudian tersangka meminta korban untuk tiduran di sebelah tersangka namun korban menolak. 

“Karena mengalami penolakan itu, tersangka marah-marah dan menceramahi korban dengan mengatakan bahwa korban merupakan harapan orang tua satu satunya jika korban tidak menurut dengan keinginan orang tua maka korban anak yang durhaka sehingga korban diminta untuk menuruti keinginan tersangka. Karena korban takut, sehingga korban menuruti keinginan oleh tersangka,” tuturnya.

Kemudian tersangka mengatakan kepada korban apakah korban membuka pakaian sendiri atau tersangka yang membukakan pakaian, namun korban tetap menolak hingga kemudian tersangka membuka secara paksa pakaian korban lalu menciumi bibir korban, pipi korban, mata korban dan memegang payudara korban. 

“Kemudian tersangka memegang kemaluan korban dan lalu tersangka memasukkan kemaluannya kedalam kemaluan korban. Kejadian itu terulang sebanyak 3 kali dan pada tahun 2022 korban baru berani bercerita kepada saksi 2 & pelapor, selanjutnya pelapor melaporkan peristiwa itu ke Polrestabes Semarang untuk proses lebih lanjut,” tandasnya.

Atas perbuatannya, tersangka disangkakan Pasal 76 D  tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun.

 

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *