Letkol Inf M. Zainollah: Kegagalan Bisa Jadi Cambuk Peningkatan Kapasitas Sebagai Prajurit
SEMARANG (Awall.id) – Komandan Batalyon pemukul Kodam IV/Diponegoro Yonif Raider 400/Banteng Raiders Letkol Inf Mohammad Zainollah, S.Hub.Int.,M.M mengaku sebelumnya tak membayangkan untuk menjadi seorang Prajurit TNI AD, namun berkat motivasinya yang kuat dan dukungan teman karib kala itu, akhirnya membuatnya memilih berkarier di dunia militer.
Lulusan Akmil tahun 2004 itu pernah berdinas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) selama 6-7 tahun, diantaranya menjabat Danton I Ki-3 Yon 13 Group I Kopassus 2006, Pasi Pers Yon-13 tahun 2009, Danki 3 Yon 13 tahun 2010.
Lalu masuk ke kodam XII/Tanjungpura, Kodam VII Wirabuana dan Kodam XIII/Merdeka sebelum bergabung di Kodam IV/Diponegoro.
Di Kodam XIII, yakni menjadi Wadan Yonif Raider 712/WT Rem 131/STG Dam XIII/MDK tahun 2016. Setelah menempuh Seskoad, dirinya juga pernah menjabat Pabandyarenops Sopdam IV/DIP tahun 2020, setelah itu baru kemudian diamanahi tugas untuk menjabat sebagai Danyonif Raider 400/ BR.
Selama berkarier sebagai seorang prajurit, berbagai penugasan sudah dilaksanakan baik di dalam dan luar negeri, seperti ditugaskan Ops Papua tahun 2009, OPS Pamtas RI-RDTL 2017. Kemudian, LATMA 2010 Singapura, LATMA KPL 2015 Malaysia dan KKLN (SESKOAD) 2019 Vietnam.
Sebelumnya, dia menamatkan pendidikan sekolah dasar sampai SMA di Sampang, Madura. Dan melanjutkan SI dan S2 di Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung.
“Saya anak ke- 9, dari 9 bersaudara dari keluarga saya anak yang satu-satunya yang menjadi tentara. Semua kakak saya menjadi nelayan. Sejak lulus kelas 3 SMA, saya tidak mau jadi nelayan dan pingin kerja selain nelayan, karena melihat dari kondisi keluarga saya semuanya adalah nelayan dan alhamdulillah saya jadi tentara,” jelas Danyon, saat ditemui awak media, Selasa (25/7/2023).
Sedangkan pengalaman menarik, selama berkarier di militer, menurutnya semuanya punya sesuatu yang berkesan.
“Dan bisa menjadi pembelajaran saya, apapun itu suatu kedinasan tidak lepas dari usaha keras dimana ada kesempatan kita maksimalkan bekerja dengan hati dan berani melakukan perubahan dalam hal baik yang didasari oleh ketulusan dan keikhlasan. Itu kunci agar setiap kegiatan kita bisa berhasil dan tetap bersemangat. Dan kegagalan bukan segala -galanya itu bisa menjadi cambuk untuk peningkatan kapasitas saya sebagai prajurit,” tegas Pria kelahiran Sampang, 10 Juni 1980 ini.



















