Update! Harga Tiket Masuk Semarang Zoo saat Hari Biasa dan Akhir Pekan
SEMARANG (Awal.id) – Harga tiket terbaru Taman Satwa Kota Semarang atau Semarang Zoo tidak berubah setelah masa libur lebaran 2023. Yakni Rp20.000 pada hari biasa, dan Rp30.000 untuk akhir pekan (Sabtu dan Minggu) dan momen hari libur.
“Harga tiket Semarang Zoo masih sama, tidak ada kenaikan harga tiket,” kata Direktur Semarang Zoo, Choirul Awaludin di ruang kerjanya, Minggu (7/5).
Selain harga tiket tidak berubah, mantan Ketua DPD KNPI Kota Semarang ini juga menyampaikan permohonan maaf kepada pengunjung jika merasa terganggu atas adanya perbaikan yang ada di kebun binatang yang terletak di sebelah pintu Tol Kalikangkung Semarang-Kendal.
“Kami juga menyampaikan permohonan maaf, jika pengunjung merasa kurang nyaman karena kondisi saat ini masih dalam proses perbaikan,” tuturnya.
Kendati demikian, ia menerangkan, pihaknya telah mengatur perbaikan secara bertahap sehingga masyarakat masih bisa berkunjung, sementara proses perbaikan tetap bisa berlangsung sesuai yang direncanakan..
“Ini sekaligus biar masyarakat juga tahu bahwa Semarang Zoo berusaha untuk terus meningkatkan pelayanan dan fasilitas yang ada,” ujarnya.
Perawatan Satwa
Sementara, drh. Hendrik Tri Setiawan selaku dokter penanggung jawab kesehatan di Semarang Zoo, menerangkan perawatan satwa. Selain persoalan gizi dam pakan, juga ada upaya preventif rutin dalam menjaga kesehatan satwa. Antara lain dengan pemberian multivitamin dan menjaga kebersihan serta disinfeksi kandang.
“Perawatan satwa, dilakukan kegiatan preventif seperti desinveksi kandang, pemberian multivitamin dan pemberian papan larangan pemberian makanan dan minuman terhadap satwa,” urainya.
Lebih lanjut ia menerangkan jadwal pembersihan kandang dilakukan setiap hari, sedangkan penyemprotan disinfektan pada menjelang lonjakan dan setelah lonjakan pengunjung, yakni sebelum akhir pekan dan setelah akhir pekan.
“Kandang dibersihkan setiap hari, dan minimal dua kali dalam seminggu disemprot disinfektan. Ini biasanya dilakukan setiap hari Jumat dan Senin. Sedangkan multivitamin kita berikan seminggu sekali,” paparnya.
Selain itu, tim dokter juga melakukan pencegahan dari kemungkinan adanya penyakit menular seperti rabies, penyakit mulut dan kuku (PMK), dan Lumpy Skin Disease (LSD), yakni penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV).
Umumnya, virus PMK terjadi pada hewan kuku belah sedangkan LSD banyak menyerang pada sapi dan kerbau saja.
“Juga ada vaksinasi rabies pada primata dan harimau serta vaksinasi PMK dan LSD pada satwa kuku belah seperti kerbau bule, sapi bali dan unta yang bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kota Semarang,” terangnya.
Upaya tersebut, kata Hendrik, merupakan standart dalam menjaga satwa maupun pengunjung dari kemungkinan adanya zoonosis.
Ia jelaskan, zoonosis merupakan penyakit yang menular dari manusia ke hewan, atau sebaliknya. Zoonosis bisa menular melalui bakteri atau virus. Ini bisa terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung.
Zoonosis, paling mudah terjadi pada hewan primata. Meski begitu, aves dan hewan lain juga mempunyai potensi menyebarkan virus pada manusia.
“Nah, pengunjung yang punya hewan piaraan atau ternak juga perlu memperhatikan cara merawat hewan di rumah, jaga kebersihan kandang dan perhatikan nutrisi satwa agar terhindar dari adanya penularan virus atau bakteri,” pesannya.



















