Kerajinan Eceng Gondok Kesongo Tembus Pasar Internasional, Ferry Dorong Pemerintah Terapkan Pembinaan Sistem Regenerasi

SEMARANG (Awal.id) – Kualitas produk kerajinan eceng gondok asal Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, tidak perlu disangsikan lagi. Produk kerajinan eceng gondok dari Rawa Pening ini, sekarang sudah mendunia, selepas salah satu perajinnya, Firman Setyaji, melakukan gebrakan dengan melakukan promosi di kawasan Asia dan Eropa. Terakhir, Firman menggelar pameran di negara Matador, Spanyol.
Wakil Ketua DPRD Jateng Ferry Wawan Cahyono menyambut antusias gebrakan pemuda kreatif asal Desa Kesongo, Tuntang, Kabupaten Semarang tersebut. Melalui tangan-tangan terampil, tanaman eceng gondok yang merupakan tumbuhan apung yang menjadi gulma dapat disulap menjadi benda kerajinan yang bisa mengangkat perekonomian masyarakat sekitar.
Menurut Ferry, dari bahan baku eceng gondok ini dapat dihasilkan berbagai kerajinan, seperti tas, sandal, souvenier, tudung saji, pouch handphone, mobil-mobilan dan juga berbagai barang funsional seperti meja kursi.
“Enceng gondok yang menjadi gulma bagi ekosistem air, ternyata mampu dijadikan kerajinan yang memiliki ekonomi tinggi. Lewat kreativitas, enceng gondok bisa dibuat aneka ragam produk kerajinan yang bisa mendorong ekonomi masyarakat Desa Kesong,” kata Ferry, di Semarang, Senin (19/9).
Politikus asal Partai Golongan Karya (Golkar) Jateng ini menuturkan sebelum dijadikan bahan utama produk kerajinan tangan, enceng gondok yang tumbuh subur di Rawa Penuh hanya dimanfaatkan untuk makanan ternak, seperti sapi, domba, kambing, kelinci, atau unggas. Bahkan, jika hampiran enceng gondok sangat tinggi, tumbuhan gulma ini seringkali dibuang begitu saja.
Namun, seiring dengan hadirnya Firman, enceng gondok di kawasan Rawa Pening bagaikan mutiara yang terpendam. Dengan sedikit kreativitas, enceng gondok dapat dijadikan aneka kerajinan yang hasilnya tidak kalah dengan kerajinan sejenis, seperti pandan, pelepah pisang dan lain sebagainya.

Sebelum dijadikan sebagai bahan dasar anyaman, kata Ferry, batang eceng gondok dijemur di bawah cahaya matahari sampai kering, di atas alas plastik atau terpal. Proses pengeringan bisa berlangsung selama 2 – 3 hari atau satu minggu, sampai eceng gondok benar-benar kering dan warnanya berubah jadi cokelat.
“Eceng gondok yang sudah kering inilah dikreasikan menjadi berbagai kerajinan. Bisa dibuat tas anyaman, tempat tisu, kotak penyimpanan, keranjang, tudung saji, tempat sampah, tempat pakaian kotor, hingga furnitur seperti meja, kursi dan rak buku,” paparnya.
Anggota legislative asal daerah pemilihan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Kebumen ini mengaku pemasaran masih menjadi kendala utama bagi perajin usaha kerajinan. Kendala pemasaran ini terjadi akibat pembinaan yang tepat sasaran. Kementerian Perdagangan dan Dekranas sendiri kerap menggelar pameran untuk menjadi ruang pamer bagi pelaku usaha untuk memamerkan hasil kepada masyarakat luas.
Sayangnya, lanjut Ferry, belum banyak pelaku usaha yang memanfaatkan peluang dan kesempatan itu, sehingga peserta pameran hanya diisi oleh muka-muka lama.
Menurut Ferry, sistem pembinaan terhadap pelaku usaha kerajinan sebaiknya dilakukan per generasi. Artinya, selepas generasi pertama berhasil memasyarakatkan produk kerajinan hingga bisa mengikuti tiga kali kegiatan pameran, mereka harus dilepas. Setelah itu, pemerintah melakukan pembinaan kepada pelaku usaha baru hingga bisa menampilkan dan mememerkan produk berkualitas hingga ke pasar internasional. Demikian seterusnya, sehingga generasi-generasi usaha kerajinan bisa silih berganti, tanpa mengabaikan kualitas dari produknya.
Dengan model seperti itu, lanjut Ferry, perajin secara mandiri bisa menggelar pameran sendiri. Sementara perajin yang baru merintis usahanya diberikan kesempatan oleh pemerintah untuk mengikuti ajang pameran, baik di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.
Di sisi lain, Ferry mengimbau pemerintah agar siap memfasilitasi kebutuhan dari pelaku usaha, mulai dari permodalan, regulasi, ajang pameran, dan lain sebagainya.
“Kreasivitas masyarakat yang bisa mengangkat perekonomian daerah harus menjadi prioritas pemerintah untuk mendapatkan akses kemudahan, baik permodalan, pelatihan, maupun pemasaran. Mari kita dorong pelaku usaha mikro menengah dan kecil (UMKM) agar bisa naik kelas,” tandasnya. (adv/anf)



















