Sukseskan Pasar Tradisional Sendang Kamal, Mahasiswa KKN UNS Ciptakan Konsep Tempo Dulu
MAGETAN (Awal.id) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) di Kelurahan Kraton, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur berhasil membantu kegiatan masyarakat dalam membangun pasar tradisional.
Kegiatan tersebut digelar di area Wisata Sejarah Sendang Kamal, Minggu (20/2). Area tersebut meliputi tiga prasasti Kawambang Kulwan dan bangunan sendang atau kolam pemandian para Raja Mataram Kuno yang berada di Kraton Maospati.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kelurahan Kraton dan Pokdarwis Sendang Kamal itu memiliki konsep pasar tradisional yang bernuansa tradisional Jawa. Kegiatan ini melibatkan warga sekitar Sendang Kamal.
Program kerja mahasiswa KKN UNS disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan yang ada di lokasi. Program kerja seperti pembuatan lapak dari bambu, pembuatan koin dari batok kelapa sebagai alat tukar, pelatihan pembuatan besek sebagai kemasan yang dilaksanakan bersama warga.
Pelabelan nama lapak menggunakan aksara Jawa, pembuatan infografis mengenai sejarah prasasti Kawambang Kulwan dan bangunan kolam/Sendang Kamal, sosialisasi mengenai keorganisasian bagi Pokdarwis, dan sosialisasi mengenai digital marketing bagi para calon pedagang.
“Konsep yang kita bangun ini adalah sebuah tradisional market yang dibantu dengan warga sekitar Sendang Kamal dalam pelaksanaannya,” tutur Kepala Kelurahan Kraton, Agus Heru Maryanto SE.

Kegiatan tersebut berjalan dengan lancar. Masyarakat setempat menyambut antusias dengan adanya pasar tradisional tersebut. Warga beramai-ramai berdatangan menyerbu jajanan yang ada di pasar tradisional dan sekaligus bertamasya dengan mendatangi situs tiga prasasti yang penuh dengan sejarah di dalamnya.
“Tujuan kami yang paling utama dari kegiatan ini adalah menjadikan desa ini sebagai destinasi wisata serta membangkitkan perekonomian masyarakat,” ujar Agus Heru Maryanto.
Selain itu pasar tradisional ini mempunyai hal yang unik, yaitu terdapat aneka jajanan tempo dulu serta untuk berbelanja mereka harus menukar mata uang rupiah di “money changer”, kemudian ditukar oleh koin yang terbuat oleh batok kelapa.
Pengunjung yang telah mengantongi koin dapat membelanjakannya ke pasar tradisional tersebut. Selain itu, nuansa tradisional tempo dulu dimunculkan dengan konsep penjual yang menggunakan baju lurik.
Kepala Kelurahan Kraton menuturkan acara yang telah berlangsung tersebut masih tergolong kegiatan yang baru dan masih butuh banyak sentuhan agar bisa mendapatkan hasil yang diharapkan. (is)



















