Mengenal Sosok Uswatun Hasanah, Pendidik Berprestasi yang Menjadi Kepala Disdikbud Jateng  

SEMARANG (Awal.id) — Uswatun Hasanah, mantan Kepala SMA Negeri 1 Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, kini resmi menyandang jabatan baru sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah (Jateng), setelah dilantik Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jumat (14/1).

Selain Uswatun Hasanah, juga dilantik 12 pejabat pimpinan tinggi pratama lain di lingkungan Pemprov Jateng. Usai pelantikan, perempuan kelahiran 30 Juli 1976 itu, menegaskan siap melakukan mandat yang diberikan Gubernur Ganjar. Sejumlah pekerjaan rumah, kata Uswatun juga akan disikapinya dengan cepat dan tegas.

Kepada Uswatun, Ganjar secara khusus memang berpesan agar segera mengatasi persoalan  pungutan liar di sekolah, penahanan ijazah, dan integritas di satuan pendidikan. Persoalan itu, kata Ganjar, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas di Disdikbud Jateng.

Baca Juga:  Sebagai Aksi Perubahan, Disdakop UKM Kendal Launching UMKM Center

“Apa yang disampaikan Pak Ganjar, memang butuh gerakan yang cepat dan dibutuhkan sikap yang tegas untuk mengantispasi tiga hal tersebut, adanya penyimpangan hal-hal yang tidak seharusnya atau tidak on the track,” kata perempuan berhijab itu.

Terkait persoalan pungli, Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia itu menegaskan bahwa biaya pendidikan di satuan pendidikan di bawah Pemprov Jateng gratis. Uswatun mengaku siap mencopot oknum jika ditemukan pungli sesuai perintah gubernur.

“Karena sekolah itu sudah gratis, insya Allah saya siap. Kalau soal ijazah akan segera ditindaklanjuti, yang jelas sudah ada instruksi untuk tidak menahan ijazah. Bahkan kalau perlu ya kepala sekolahnya dipecat. Memang butuh sikap yang tegas untuk penyimpangan seperti itu,” tegas Uus, panggilan akrabnya.

Baca Juga:  KSBSI Sepakat Soal Rencana Ganjar Terapkan UMP Ganda

Kini, tiga “profesi” sekaligus disandang Uswatun Hasanah. Selain menjadi seorang doktor yang bekerja sebagai pendidik dan Kepala Disdikbud Provinsi Jateng, Uus ternyata juga sangat mahir menulis dan menyanyi. Bagaimana Uus membagi waktu?

“Yang penting profesional, prosedural, dan proporsional. Tidak saling mengganggu, bahkan sebaliknya, saling mendukung,” tandasnya.

Dia menerangkan, menjadi penulis sangat membantu dirinya mengembangkan kemampuan dalam mengajar. Dengan menulis, intelektual menjadi terasah, sehingga memperlancar proses penyampaian materi kepada siswa.

Baca Juga:  Museum USM Diresmikan, Dibuka untuk Masyarakat Umum

“Sementara dengan menyanyi, kita bisa mengaktualisasikan diri, mengasah kepekaan, juga mampu berkomunikasi dalam bentuk berbeda dengan orang lain, berbicara tapi berirama,” tutur Uus yang juga pencipta mars Adiwiyata Nasional, pengisi acara Campursari TVRI 7 tahun berturut-turut (2001-2007), serta juara vokal keroncong dan campursari tingkat Provinsi tersebut.

Segudang prestasi lain juga pernah diraih Uus. Sejumlah buku berhasil dipublikasikan, seperti “Balada Hidup Si Burung Pipit” dan “Reyog Ponorogo Media Pelestarian Seni dan Budaya Indonesia”, “Rumah Cahaya” maupun kumpulan cerpen.

Uus juga menyabet penghargaan bergengsi sebagai pendidik. Sebut saja, guru berprestasi tingka Provinsi Jateng 2015, guru pemandu Bahasa Indonesia hasil seleksi LPMP tahun 2009-2011, dan seabrek prestasi lain.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *