Inovasi Cemilan dari Jamur Tiram, Kelompok Jejamuran Ati Becik Sukses Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Banjardowo Semarang
SEMARANG (Awal.id) – Wabah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia kini sudah mendekati dua tahun lamanya. Akibatnya, daya beli konsumen dan perekonomian di semua sektor ikut terdampak, dan hal itu dirasakan sekali oleh pelaku usaha.
Namun, kondisi itu justru dapat dimanfaatkan oleh salah satu kelompok masyarakat yang mampu menciptakan perekonomian baru melalui budidaya jamur tiram. Kelompok itu adalah kelompok Jejamuran Ati Becik (JAB) yang berlokasi di Jalan Bitaran RT 2 RW 3, Kelurahan Banjardowo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.
Pendamping JAB, Hernanto mengatakan budidaya jamur bermula ketika dirinya bersama rekannya untuk menggagas suatu kelompok yang mampu meningkatkan perekonomian di wilayah tersebut.
Setelah digagas, kata dia, dia bersama rekannya untuk memberikan arahan dan dukungan kepada masyarakat melalui budidaya jamur tiram di Kelurahan Banjardowo.
“Kelompok JAB sebulan sekali ada pertemuan rutin, di dalamnya ada tim konseptor dan tim khusus yang membuat prakarsa untuk disampaikan kepada anggota. Keunggulan jamur ini berbeda dengan jamur tiram di dataran tinggi, karena kadar air tidak banyak,” kata Hernanto, Jumat (29/10).
Dengan memiliki kadar air yang tidak tinggi, kata Hernanto, jamur tiram yang dibudidayakan di Kelurahan Banjardowo lebih memiliki ekonomis yang lebih tinggi. Dengan rendahnya kadar air ini membuat jamur tiram lebih tahan lama dan tidak lembek teksturnya.
“Jamur tiram yang hidup di daerah dataran tinggi, kadar air terlalu banyak, sehingga tidak tahan lama. Misalnya, ditaruh di pasar pagi hari, siang sudah lembek. Tapi jamur di sini bisa tahan 1-2 hari, asalkan panennya muda,” paparnya.
Untuk meningkatkan nilai ekonomi jamur tiram panenan petani jamur Kelurahan Banjardowo, menurut Hernanto, kelompoknya melakukan inovasi dengan membuat olahan makanan dengan bahan baku jamur tiram.
Inovasi produk makanan cemilan dari jamur tiram yang berhasil dikembangkan, antara lain lunpia dan puding jamur.
“Ini inovasi yang sangat inovasi, jarang kita melihat inovasi jamur tiram dibuat olahan makanan cemilan, seperti lunpia hingga puding jamur,” jelasnya.
Mengenai pemasaran produksi cemilan jamur, Hernanto menjelaskan cemilan hasil inovasi ini akan dipromosikan di Kota Semarang saja. Sedangkan untuk pembeli luar kota, bisa memesan melalui online.
“Untuk sementara pemasaran lunpia dan puding jamur tiram, kami pasarkan di Kota Semarang. Penjualan di Semarang kami fokuskan di pasar dan supermarket. Sedang untuk konsumen luar kota bisa memesan produk kami lewat online,” ujarnya.
Menurut dia, permintaan terhadap lunpia dan puding jamur cukup menggembirakan. Untuk memenuhi permintaan konsumen terkadang pihaknya cukup kualahan, mengingat hasil panenan jamur tiram belum sebanding dengan tinggi permintaan terhadap produk olahan cemilan dari jamur tiram. (is)




















