Gubernur Akui Penanganan Rob dan Banjir di Jateng Tidak Mudah

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima sejumlah ahli geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di rumah dinas, Rabu (1/9)
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima sejumlah ahli geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di rumah dinas, Rabu (1/9)

SEMARANG (Awal.id) – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, penanganan rob dan banjir di Jateng memang persoalan yang tidak mudah. Sehingga, masukan dari para ahli sangat dibutuhkan agar penanganan berjalan sesuai harapan.

Hal itu disampaikan Gubernur Ganjar saat menerima sejumlah ahli geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berkunjung ke rumah dinasnya, Rabu (1/9).

“Saya senang atas masukan-masukannya. Saya sangat berharap ada rekomendasi langkahnya seperti apa, roadmapnya seperti apa. Agar penanganan ini berdasarkan data keilmuan,” ucapnya.

Baca Juga:  Baznas Kota Semarang Resmi Buka Pendaftaran Seleksi Calon Pimpinan Periode 2022-2027, Ini Persyaratannya

Meski begitu, Ganjar membenarkan bahwa upaya penanganan rob dan banjir di Jateng sudah berjalan. Sejumlah aksi telah dilakukan, mulai dari hulu, tengah dan hilir.

“Teman-teman sudah banyak melakukan aksi, misalnya di Kota Semarang yang membangun pompa-pompa dan kolam-kolam retensi. Sehingga pengendalian banjir di Kota Semarang sekarang sudah lebih baik. Pekalongan juga sudah dilakukan, tapi memang pengendalian jangka panjang ini yang harus ditingkatkan,” pungkasnya.

Baca Juga:  Jateng Siap Percepatan Vaksinasi Tapi Terkendala Stok, Minggu Ini Ada Kiriman

Heri Andreas, salah satu ahli geodesi ITB yang ikut menemui Gubernur Ganjar menjelaskan, selain solusi jangka pendek dengan pembuatan tanggul itu, solusi jangka menengah dan panjang juga harus dilakukan dalam upaya penanganan rob dan banjir di Jateng.

Solusi jangka panjangnya, menurut Heri Andreas adalah dengan land and water management.

“Jadi menangani rob dan banjir di Semarang, tidak bisa lepas dari daerah hulunya. Wilayah dari hulu, tengah sampai hilir itu harus diberesi secara pararel,” jelasnya.

Baca Juga:  Pendaftaran SIPSS TA 2022 Dibuka, Kabid Humas Polda Jateng: Ini Cara Daftarnya

Penanganan rob dan banjir karena penurunan tanah ini, lanjut Heri, memang bukan persoalan mudah. Butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan itu.

“Hitungan paling cepat 10 tahun, sehingga kalau kita minta cepat beres, ya tidak realistis. Setidaknya 10 tahun itu waktu optimum pembenahan. Bagusnya di Jateng sekarang sudah dimulai, tinggal kita dorong terus dan hasilnya nanti kita lihat di 10 tahun ke depan,” pungkasnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *