Perjanjian Kinerja USM 2026, Rektor: Anggaran Wajib Hasilkan Output Nyata

SEMARANG (Awall.id) – Universitas Semarang (USM) melakukan penandatanganan perjanjian kinerja tahun anggaran 2026 dengan pemegang anggaran atau budget holder mulai dari dekan hingga pimpinan unit, pada 29 Januari 2026.
Penandatanganan kontrak ditandantangani Rektor dan pemegang anggaran atau budget holder mulai dari dekan hingga pimpinan unit.
Rektor menegaskan anggaran akan diberikan mengikuti bobot kualitas program yang diajukan.
”Apakah itu target akreditasi unggul atau publikasi internasional. Dana akan disiapkan untuk mendukung hasil tersebut,” katanya.
Rektor menekankan reformasi mindset yakni perubahan paradigma besar dari program follows money menjadi money follows program.
”Pertanggungjawaban kini tidak lagi sekadar tentang bagaimana menghabiskan uang yang ada, melainkan apa output nyata yang dihasilkan,” ujarnya.
Dengan perjanjian itu, setiap capaian kinerja baik dari sektor akademik, kurikulum, maupun manajemen harus terukur secara rinci dan selaras dengan visi besar universitas.
Hal senada dikatakan Wakil Rektor II USM, Dr Abdul Karim SE MSi Ak CA. Menurutnya, tujuan penandatanganan kontrak itu adalah sebagai komitmen antara universitas dan para pengguna anggaran yang ada di Universitas Semarang.
”Artinya, agar capaian-capaian kinerja itu bisa terukur. Jadi capaian-capaian kinerja yang tertuang secara rinci di dalam proses penyusunan anggaran itu bisa terlaksana dengan baik dan bisa selaras dengan tujuan yang akan dicapai oleh Universitas Semarang,” ungkapnya.
Dekan FTP USM, Prof Dr Ir Rohadi MP mengatakan, terkait mindset bahwa money follow program itu belum bisa terlaksana.
”Kita masih berputar pada pola lama yakni program-program itu mengikuti uang. Jadi program follow money bukan money follow program. Ini yang masih menjadi kegalauan Pak Rektor, ke depan harus ke arah bahwa uang itu mengikuti program apa?,” tuturnya.
Dia menambahkan, reformasi itu juga mencakup perbaikan logika tata kelola seperti mendudukkan posisi senat agar lebih independen.
”Meski mengubah budaya kerja lama menjadi tantangan tersendiri, Universitas Semarang optimistis. Langkah ini adalah upaya nyata menyelaraskan seluruh sumber daya demi mencapai lompatan prestasi yang lebih tinggi di masa depan,” tandasnya.




















