PPKM Level 3 Nataru Dibatalkan, Ketua DPRD Kota Semarang: Momentum Bangkitkan Sektor Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat

SEMARANG (Awal.id) – Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman SE menegaskan pembatalan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 pada periode Nataru oleh Pemerintah Pusat tidak banyak mempengaruhi potensi keramaian di Kota Semarang.
Sebaliknya, Pilus panggilan akrab Kadar Lusman, menyebut keadaan ini justru merupakan momentum yang tepat dalam meningkatkan laju ekonomi, khususnya pada daerah Kota Semarang.
“Kalau boleh jujur ini merupakan momentum yang tepat untuk menggiatkan ekonomi khususnya di Kota Semarang. Kita (Pemkot Semarang) telah menggandeng stakeholder dan dinas pariwisata terkait dalam upaya menggeliatkan ekonomi pada sektor pariwisata namun tetap dalam koridor prokes,” kata Pilus saat menjadi narasumber Spesial Dialog Interaktif yang digelar MetroTV, di Studio Metro TV Jateng dan DIy, Semarang, Selasa (7/12).
Selain Pilus dialog interaktif yang mengusung tema ”Wisata Bangkit Ekonomi Menggeliat” juga menghadirkan dua narasumber lain, yaitu Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Prof Dr Andreas Lako dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari SE.
Kendati PPKM Level 3 pada Nataru dibatalkan, Pilus meminta pengelola pariwisata agar tetap mematuhi peraturan pemerintah terhadap penerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan massa.
“Pembatalan PPKM Level 3 ini memang bisa jadi momentum positif bagi pelaku wisata dalam upaya membangkitkan ekonomi nasional, tapi pengelola harus ingat untuk tetap menaati kebijakan prokes ketat sesuai ketentuan masing-masing daerah,” ujarnya.
Senada dengan Pilus, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Indriyasari SE menyebut dengan dibatalkannya PPKM level 3 serentak di seluruh Indonesia menjadi peluang dalam mengangkat destinasi wisata unggulan di Kota Semarang.
“Ini bisa jadi peluang yang bagus. Kota Semarang memiliki program unggulan, yaitu Kampung Tematik dan Desa Wisata. Kampung Tematik sendiri tidak dimiliki oleh daerah lain di luar Kota Semarang, di mana ini bisa menjadi magnet bagi wisatawan. Harapannya dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar yang cukup efektif,” jelas Iin sapaan akrab Indriyasari.
Kampung Tematik
Iin menjelaskan dari 177 Kampung Tematik yang ada saat ini, sebagian besar telah menjadi rintisan wisata dan beberapa di antaranya bahkan menjadi destinasi wisata.
“Saya kira ini progres yang cukup baik dan patut diapresiasi. Jadi, kita sama-sama bersinergi dengan kearifan lokal dan potensi yang ada di daerah yang mana nantinya muara perekonomian akan kembali lagi pada masyarakat sekitar,” tuturnya.
Sejurus dengan dibatalkannya PPKM level 3 serentak, pemerintah tetap akan menerapkan sejumlah pengetatan. Di mana sedikit banyak akan menjadi penghalang sektor pariwisata dalam menggaet wisatawan.
Menanggapi hal tersebut Pilus mengaku telah menyiapkan beberapa strategi salah satunya dengan menjaga bersinergisitas antara Pemkot Semarang dan stakeholder terkait.
“Kita selalu menjaga komunikasi tetap oke baik itu dari Pemkot, Forkopimda, masyarakat, dan stakeholder terkait. Dengan komunikasi yang baik inilah yang akhirnya membuat para pelaku usaha dan wisata merasa nyaman. Kalau bisa bersinergi kenapa harus berkompetisi,” terang Pilus.
Pilus juga menilai kebijakan pemerintah yang diterapkan oleh Wali Kota Semarang yang melibatkan semua pihak terkait dirasa sangat menarik dan inovatif.
“Pak Wali Kota top menurut saya, dia selalu mengajak berembuk seluruh forkopimnda jateng dan stakeholder terkait begitu akan mengeluarkan kebijakan baru. sehingga nanti bila sudah diputuskan tidak bikin susah semua pihak,” lanjut Pilus.
Sementara Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Prof Dr Andreas Lako menilai ekonomi Jawa Tengah sudah tumbuh dari minus 2,65 menjadi 2,44 terhitung selama 9 bulan sejak Januari sampai September 2021.
“Penyumbang pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah terbesar utamanya adalah Kota Semarang. Itu berarti secara makro, ekonomi Kota Semarang sedang bergeliat kembali,” paparnya.
Menurut Andreas, membicarakan soal pariwisata, pasti harus mengupas rentetan di dalamnya. Entah itu, UMKM, seni budaya dan lain sebagainya. “Inilah yang perlu kita siapkan dan kemas sebaik mungkin. Di mana nantinya dapat menarik wisatawan yang ada di luar Semarang,” katanya. (adv)



















